Example 700x300
Example floating
Example floating
Cerpen

Bangku Kosong

617
×

Bangku Kosong

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Agnes Milla Ate (XI A)

Di hari yang murung bagaikan daun gugur, senja datang mengajakku berdamai. Namun aku datang mengusik: bermain dengan doa. Maaf Tuhan, malam ini kubawa lagi keluhan yang tak pernah reda di telinga-Mu. Namaku Umbu, bocah 12 tahun dari Sumba yang masih setia menyusuri hutan sejauh 1.000 meter demi mencapai rumah setelah sekolah di SDN Waimangura.

Example 300250

Langkahku berat, bukan karena jarak, tapi karena Desember telah tiba. Di sepanjang jalan, aku melihat pohon-pohon cemara kecil mulai dihiasi kapas putih dan lampu warna-warni di teras rumah orang. Teman-temanku sibuk bercerita tentang baju baru yang dibelikan ayah mereka untuk dipakai ke Gereja nanti. Aku? Aku hanya punya debu merah yang menempel di seragam merah-putihku dan bayangan ibu yang sedang membanting tulang di kebun.

Sejak aku bisa mengingat, Natal bagiku adalah perayaan berdua. Hanya aku dan Ibu. Ayah katanya merantau ke Kalimantan sejak aku lahir, namun tak pernah ada surat, apalagi kepulangan.

Malam itu, di ambang pintu, aku menatap langit yang merona oranye. Aku berbisik pada patung Bunda Maria di sudut ruangan, “Bunda, kenapa aku tidak bisa merasakan Natal dengan keluarga yang lengkap? Hanya sekali saja, aku ingin duduk di antara Ayah dan Ibu saat Misa malam Natal.”

Patung itu seolah berbisik dalam hening, “Kau punya ayah, Umbu. Namun ada luka yang lebih dingin dari embun Sumba yang disimpan ibumu.”

Ibu pulang saat malam telah larut. Langkahnya gontai, membawa kayu api dengan peluh yang membasahi kain di kepalanya. Di tengah aroma asap dapur, aku memberanikan diri “bermain api”.

“Ma,” kataku pelan, “Natal tahun ini, apakah Ayah akan pulang dari Kalimantan?”

Ibu terhenti. Tangannya yang kasar karena cangkul berhenti menyusun kayu. “Kalimantan itu jauh, Nak.”

​”Tapi Ma, Umbu ingin tahu rasanya duduk di gereja sambil memegang tangan Ayah. Umbu ingin tahu rasanya Ayah memotong kue Natal untuk kita berdua. Kenapa dua belas tahun Natal kita selalu sepi?”

​ Ibu berbalik. Ia menatapku dengan mata lelah yang tiba-tiba berkaca-kaca. Sebuah senyuman misterius tersungging—senyum yang selalu ia pakai untuk membungkus rahasia gelap yang tak mampu ia ceritakan.

“Umbu,” bisiknya parau, “Natal bukan soal siapa yang duduk di sebelahmu, tapi soal siapa yang ada di dalam doamu.”Aku tertunduk.

Di luar, lonceng gereja mulai terdengar lamat-lamat berlatih untuk malam kudus. Di hatiku, kerinduan akan sosok ayah tetap menjadi kado Natal yang tak kunjung datang, terkunci rapat dalam senyum misteri Ibu yang tak pernah retak.

 

Example floating

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Cerpen

Di puncak bukit Golgota, terik mentari membakar kulit…