Kita dipaksa untuk segera bergegas, sebab penantian sudah lama dirayakan
Seperti semesta menyulap kepompong menjadi kupu-kupu
Sesperti desember yang dipaksa terbuai rayu dalam gerimis-gerimis kenangan
Seperti kita yang bergembira dalam akhir yang awalnya diragukan
Dalam temaram rindu yang bertalu
Aku berdecak dalam kekaguman
Sebab riak-riak cinta menjelma menjadi sabda
Dan sabda itu menjadi manusia
Dalam temaram rindu itu pula.
Sunyi memuji sendu
Hening melengking dengan keras
Mengahapus jiwajiwa yang hidup dengan keji
Sebab dia datang dari kesempurnaan Ilahi
Sebelum Betlehem
Dalam degap-degup penantian itu, apakah sunyi telah kau kunjungi?
Atau kau hanya melenggang dalam gemerlapnya nadir-mu?












