Wartasaj.com-Mengusung tema “Sastra dan Bencana,” komunitas Dusun Flobamora mengadakan festival sastra bagi para seniman, komunitas literasi, pelajar, mahasiswa dan pegiat literasi dari tanggal 19-20 September 2025.
Kegiatan ini dimulai dari pukul 09:00 wita hingga pukul 15:00 wita pada Jumat, 19 September 2025. Kegiatan ini diawali dengan tarian khas dari Malaka oleh SMPK St.Yosep Naikoten, lalu para peserta menyanyikan lagu kebangsaan, Indonesia Raya.
Festival Sastra Santarang 2025 merupakan Festival ke-5 yang diadakan oleh komunitas Dusun Flobamora. Para pecinta sastra ingin mengajak kita untuk melihat apa yang dapat dilakukan oleh sastrawan terhadap lingkungan hidup.
“Ini merupakan kesempatan bagi para penulis dan sastrawan untuk berpesta dan mendiskusikan beberapa hal dalam tema-tema tertentu terutama tentang lingkungan hidup” kata Rm. Amanche Ninu, selaku ketua komunitas Dusun Flobamora dalam sambutannya.
Bencana yang terjadi di provinsi NTT seperti “seroja” pada April tahun 2021 dan meletusnya gunung Lewotobi laki laki, dapat menjadi inspirasi untuk menuangkan kreasi sastra sebagai arsip yang berguna bagi para pembaca.
Materi pada sesi pertama dibawakan oleh Zuddi Ichwan Priyana dan Rm.Amanhce Ninu tentang pentingnya literasi, perlindungan bahasa Indonesia dan pelestarian bahasa daerah.
Sesi berikutnya, adalah pemutaran film DABA yang menceritakan tentang ritus jingitiu untuk bayi yang belum berusia satu (1) tahun.
Film ini merupakan film dari daerah Sabu, dan merupakan karya dari komunitas Dusun flobamora. Narasumber untuk acara ini adalah Theresiana Huki dan Thomas Koro Magga.
Mereka berbicara tentang nilai-nilai dari tradisi ini serta cara pelestariannya.
Sesi terakhir adalah tentang ritual “Tao Leo.” Ritual yang menjelaskan tentang hubungan Orang-orang hidup dan ”orang-orang mati dalam tradisi masyarakat Sabu. Materi ini dibawakan oleh Thomas Koro Magga & Christian Dan Dadi.














