Wartasaj.com-Sabtu 20 September 2025, festival sastra hari kedua. Sesi pertama digunakan untuk membedah sebuah antalogi puisi yang berjudul “ Seroja di Telaga Duka”.
Dalam diskusi ini, Mama Ina selaku penulis menjelaskan latar belakang buku ini. Salah satu alasan yang paling kuat menulis antalogi puisi ini adalah manusia rapuh di hadapan alam.
Selanjutnya, Mario Lawi, seorang penulis dan sastrawan NTT selaku narasumber kedua menjelaskan tentang hal istimewa yang dirasakannya ketika terjadi badai Seroja.
Ia menegaskan bahwa fungsi puisi terhadap bencana adalah mendokumentasikan peristiwa. Bencana membawa kita untuk melihat “Siapakah diri kita?”.
Dalam sesi kedua, dusun flobamora menghadirkan seorang seniman dan sastrawan, yaitu Pieter Kembo. Ia menulis ontologi puisi yang berjudul “ Tumbuh dari Debu, Berkembang dalam Badai.”
Ontologi puisi ini adalah tentang kisah-kisah hidupnya. Ada beberapa alasan, ia menulis buku ini, yaitu pertama, sebagai dasar untuk tidak kehilangan sejarah hidup dan kehidupan. Kedua, karyanya dapat menjadi sumber inspirasi bagi orang lain.
Disela-sela diskusi ini, Rm. Leonardus Mali, Pr selaku seorang Rohaniwan dan penulis turut memberikan input. Romo Leo Mali mengatakan bahwa “Penderitaan itu diperlukan dalam kehidupan agar manusia utuh. Ketika manusia tidak mau menderita maka dia tidak akan menjadi manusia yang seutuhnya.
Setelah sesi diskusi berakhir, acara selanjutnya adalah makan siang bersama sambil menikmati beberapa acara yaitu band dari SMPK St.Yoseph Naikoten dan baca puisi dari SMP Negeri 2 kota Kupang. Acara masih berlanjut dengan kuis terkait materi-materi selama dua hari, lalu foto bersama dan ditutup dengan doa dan Sayonara.
Dua peserta didik SMA Sto. Arnoldus Janssen yang dipercayakan untuk mengikuti kegiatan ini adalah Jaanuario Chrisno Bere dan Alyshia Agustine Leonaria Ladjar.














