Wartasaj.com- “Qui bene cantat bis orat,” ungkapan latin ini berarti bernyanyi benar, berdoa dua kali. Pada setiap kali merayakan Ekaristi, umat diminta untuk bernyanyi. Nyanyi tidak sekadar memuji dan meluhurkan Tuhan, nyanyi adalah salah satu bentuk doa.
Pada Minggu Panggilan, 26 April 2026 paduan suara SMA Sto. Arnoldus Janssen sebagai penanggung koor. Misa dipimpin oleh Pater Dismas Mauk, SVD dan didampingi oleh Pater Aris Wawo, SVD. Iringan musik dan nyanyian lagu älleluya” mengiringi para imam menuju altar.
Pater Dismas, SVD menyampaikan kotbah dengan menekanan tiga hal penting yaitu: Pertama, Para murid yang mengikuti Yesus. Yesus adalah tujuan. Jika Yesus adalah tujuan ziarah hidup kita, maka kita akan mengalami kebahagiaan dan keselamatan.
Kedua, Yesus ada bersama dengan para murid. Yesus selalu ada bersama para murid dan juga ada dalam semua situasi yang kita alami. Seorang anak TK misalnya, dapat berdoa dengan benar adalah salah satu bukti Yesus hadir bersamanya. Pada setiap kali kita berdoa, kita menjadi sadar bahwa kita tidak sendirian.
Ketiga, Yesus ada di belakang para murid. Ketika Yesus mengutus para murid, Ia tidak membiarkan para murid berjalan sendirian. Ia ada di belakang mereka. Ia juga ada di belakang kita.
Jadi, Yesus yang ada di depan kita, bersama kita dan berada di belakang kita, agar kita mempunyai hidup dan mempunyainya dalam kelimpahan.
Ekaristi Minggu panggilan ini memberikan semangat baru bagi kita bahwa kegembiraan sebagai murid-murid Tuhan layak dirayakan. Lagu “Rejoice” sebagai lagu post-komuni dengan iringan ansambel gitar, biola dan organ adalah ungkapan iman tentang kegembiraan sebagai murid Yesus.
Paduan suara dengan ansambel biola, gitar dan organ adalah hasil kerja keras dan pendampingan serius dari Bapak Valen Ukat, S. Fil dan Bapak Yeri Fallo, S.Fil. M.Pd. Bernyanyi dengan benar adalah buah dari ketekunan melatih.














