Example 700x300
Example floating
Example floating
Feature

Satu Jam Lebih Dekat Dengan De Britto

175
×

Satu Jam Lebih Dekat Dengan De Britto

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh Aris Wawo, SVD

Pada Rabu, 29 Juli 2026 sebelum mengikuti seminar di UGM, kami mampir ke De Brito.

Example 300250

Pagi itu cerah, lalu lintas padat. Dengan Motor Supra X, keluaran pertama, kami menuju SMA De Britto.

SMA milik Jesuit. SMA ini berdiri sejak 1948.

Halaman bersih, tidak kelihatan satu sampah pun. Di bagian depan sekolah, ada line text, “Selamat datang di SMA Kolese De Britto.”

Ada juga lukisan seorang Imam Tua yang sedang memegang motor bermerk Vespa.

Sekolah ini sangat unik di wilayah Jogja. Sekolah yang pelajarnya adalah laki-laki. Rambut mereka gondrong dan berpenampilan ala Mahasiswa.

Ada yang menggunakan motor, tidak sedikit yang bersepeda. Tidak ada alasan untuk terlambat, selalu punya solusi untuk datang lebih awal.

Di ruangan Waka Humas, seorang pria berpakaian rapi, tinggi semampai, berkacamata menunggu kedatangan kami.

Di ruangan itu, kami mendengarkan banyak hal terutama praktik-praktik baik dari lembaga pendidikan ini.

Menurutnya, banyak praktik baik yang tidak dipresentasikan melalui media massa. Ia, tak kelihatan namun “berakar” di hati para alumnni dan Orang Tua.

Setiap tahun sekolah ini menerima pendaftar dari semua Provinsi di Indonesia, dengan jumlah lebih dari 900 Murid. Pendaftaran ditutup pada setiap akhir desember.

Para murid harus mengikuti tes. Tiga seleksi di antaranya yaitu: Tes psikologis, akademik dan wawancara.

Ada banyak peserta justru gugur di tes wawancara, padahal mereka memiliki kemampuan akademik yang gemilang, jelas Waka Humas.

De Britto menempatkan pendidikan karakter sebagai yang paling utama. Ada solidaritas antaragama, karena murid-muridnya berasal dari semua agama di Indonesia.

Karakter yang baik adalah buah dari cara berpikir yang benar. Jika pengetahuan bisa tersimpan rapi dalam teks, kebijaksanaan hidup (karakter yang benar) hanya bisa dikecap dalam hidup nyata.

Suasana pembelajaran yang tenang, walaupun ruangan kelasnya setengah terbuka. Mereka bersahabat dengan sungguh-sungguh, tidak ada “gengsi kelas dan atau angkatan”.

Kemerdekaan adalah salah satu filosofi hidup mereka. Kemerdekaan berekspresi secara benar dan bertanggung jawab dihayati dan dilaksanakan setiap hari.

Para Murid berekspresi dengan bebas dan bertanggung jawab. Kebebasan yang bertanggung jawab adalah iklim dari lembaga ini.

Guru diharapkan menjadi pembimbing yang profesional. Guru harus menjadikan suasana kelas “berkelas”.

Guru dan Murid adalah sahabat yang sama-sama belajar. Guru dituntut profesional. Guru dinilai oleh para muridnya setiap bulan.

Penilaian terhadap guru dilakukan secara bebas dan bertanggung jawab. Demikian penjelasan Waka Humas

Satu hal yang sangat menonjol pada lembaga ini adalah pada setiap akhir pembelajaran, para murid dan guru diberi waktu untuk merefleksikan pengalamannya.

Refleksi dilakukan secara tertulis.

Hidup yang tidak direfleksikan, hidup yang tidak pernah menang.

Example floating

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *