Oleh Aris Wawo, SVD
Dengan koper ukuran sedang berwarna biru tua, dan tas laptop yang ditenteng, saya bergegas menuju garasi mobil.
Br, Icham, SVD sudah menunggu. Jam 5.15 wita, waktu yang biasa untuk mendaraskan mazmur di kapela, diganti dengan perjalanan menuju bandara.
Kami beli beberapa ketul roti babi sesudah jembatan kembar.
Perjalanan pagi ini dihibur dengan beberapa lagu ambon, dan mata dimanjakan oleh orang-orang yang jalan santai dan lari pagi.
Beberapa waktu chek in, sesudahnya saya menikmati roti babi ditemani kopi hangat.
Pengumuman pesawat Batik Air jurusan Denpasar nyaring pada setiap sudut ruangan bandara. Perjalanan lebih dari satu jam menuju Denpasar sangat menyenangkan.
Di samping saya, seorang pemuda asal Bima dan saudarinya. Kami bercerita singkat.
Saya melihat ke arah yang lain, tampak beberapa turis muda membaca buku. Beberapa yang lain lelap dalam tidur.
“Waktu mendarat hampir tiba, gunakan sabuk pengaman,” demikian kata-kata pramugari jelang pesawat mendarat.
Beberapa penumpang membereskan sabuk pengaman, yang lain berdoa, agar waktu mendarat berhasil dan selamat.
Pramugari juga mengingatkan para penumpang transit untuk menunggu di ruang tunggu. Saya adalah salah satu penumpang transit.
Di ruangan tunggu, saya berkenalan dengan seorang Bapak yang berasal dari Jogja, dan baru saja mengadakan penelitian di Boawae-Nagekeo-NTT.
Dia menceritakan pengalamannya di tempat itu dengan gembira, tentang keramahan orang-orang desa dan dinginnya kota itu.
Kami berpisah sesudah pesawat Super Air Jet mendarat di Bandara Internasional Kulon Progo-Jogjakarta
Hanya sebentar saja saya menikmati suasana bandara. Ketika berada di luar bandara, seorang sopir taxi menawarkan jasanya.
Bersama dengan seorang penumpang lain, jurusan Kalongan, kami sepakat untuk menumpang taxi dengan biaya yang terjangkau.
Perjalanan ke Biara SVD di Kalongan kira-kira, 1 jam, 20 menit. Jaraknya lebih dari 50 Km.
Kami singgah di salah satu warung sederhana di Kota Sleman. Pemilik warung itu adalah suami-istri paruh baya. Mereka melayani dengan senyum dan kompak.
Kami memesan sup ayam dan teh hangat. Masing-masing berharga Rp.10.000 dan Rp. 3000. Bagi saya, ini sangat murah. Harga seperti ini tidak saya jumpai di kota Kupang dan sekitarnya.
Benar kata teman-teman, makanan dan minuman di Jogja sangat murah.
Jam 13.03 wib, saya tiba di rumah SVD. Saya diantar ke kamar makan oleh seorang pegawai.
Beberapa imam dan bruder sedang menikmati makan siang. Kami bersalaman dan berbagi cerita.
Beberapa saat sesudahnya, saya diantar ke kamar yang sudah disiapkan sejak beberapa hari lalu.
Pengalaman perjumpaan dengan sahabat-sahabat seperjalanan dan pasutri di kedai itu memberi inspirasi bagi saya bahwa kebaikan itu selalu ada, yang hilang adalah ucapan syukur.




