Example 700x300
Example floating
Example floating
Feature

Malam Pertama di Malioboro

167
×

Malam Pertama di Malioboro

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh Aris Wawo, SVD

Gerimis di seputaran Kalongan. Sore yang biasanya panas, berubah. Menurut teman, baru kali ini gerimis, sudah lebih dari beberapa bulan Jogja panas.

Example 300250

Percakapan ini terjadi di salah satu sudut biara. Di tempat ini, kami juga merencanakan mengunjungi Malioboro malam ini.

Rencana itu terwujud. Jam 18.35 wib, kami beranjak ke Malioboro dengan sepeda motor tua.

Kami sempat tersesat di beberapa tempat. “Saya jarang jalan-jalan , maaf kalau kita tersesat” katanya.

Ia membuka google map. Perjalanan kami terarah dan tiba di tempat tujuan dengan selamat.

Google Map mengingatkan saya bahwa hidup harus diarahkan dengan benar.

Banyak orang gagal karena hidupnya tidak diarahkan secara benar dan tepat, ia menghabiskan banyak waktu dengan banyaknya “tersesat,” sesat pikir dan sesat rasa.

Malioboro bukan pertama kalinya malam ini. Saya sudah beberapa kali ke sini. Namun, sejak tiba di Jogja hari ini, saya mau menghabiskan malam pertama di sini.

Ada yang berubah di Malioboro, sejak kali terakhir saya mengunjunginya Agustus 2015. Saat, semua formator seminari menengah se-indonesia mengadakan pertemuan di Wisma Syantikara, rumah milik KongregasiCarolus Boromeus (CB).

Mall Malioboro yang lebih luas dan megah dari sebelumnya. Yang lain masih sama.

Hal yang sama adalah aktivitas fotografer, kuliner, musisi jalanan, kerajinan lokal, trans jogja, andong, becak dan masih banyak lagi.

Jalan kaki adalah salah satu pilihan paling tepat menikmati suasana di Malioboro dan sekitarnya.

Mata dimanjakan dengan kaum mudi berparas cantik, dan wisatawan luar negeri yang tidak kalah penampilannya.

Di beberapa titik musisi jalanan tampil dengan lagu-lagu tradisional dan modern. Yang menarik adalah mereka tampil tanpa peduli dengan banyaknya uang yang diberikan.

Kotak uang tetap terbuka. Rp 2000 diterima dengan iklas.

Seni tidak untuk dirinya sendiri, seni wajib diekpresikan dengan bebas dan bertanggung jawab.

Suasana di Maliboro membenarkan bahwa seni dan seniman mesti diberi ruang seluas-luasnya.

Jogja tidak kehabisan seniman, karena seni selalu punya ruang yang sangat memadai.  Kota Kupang belum sampai di sini.

Para seniman di Malioboro tampil dengan lugu, tanpa malu. Dengan gitar di tangan dan suara semampunya, ia berani tampil di hadapan penikmat musik.

Hemat saya, salah satu hal serius yang menyulitkan perkembangan diri kita adalah malu.

Malu tidak sekadar suasana psikologi, malu dapat juga menjadi penyakit psikologi akut.

Malu sebagai penyakit psikologi akut jika malu didefinisikan secara keliru.

Hal yang terjadi adalah kita malu untuk mengembangkan bakat dan minat. Kita menjadi sangat malu jika nama disebut karena terlambat.

Kita tidak malu jika tidak mengerjakan tugas yang diberikan guru, kita lebih mudah malu jika diberi sanksi karena tidak mengerjakan tugas.

Tidak sedikit orang yang mengidap penyakit malu kronis. Tidak heran, jika perasaan ini pelan-pelan dan pasti menguburkan potensi dan bakat kita.

Saya belajar dari musisi jalanan Malioboro, yang percaya diri dengan suara seadanya. Mereka tidak malu tampil dengan semua kemampuannya. Mengapa mesti malu, jika yang dilakukannya adalah hal baik dan benar?

 

 

Example floating

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *