Example 700x300
Example floating
Example floating
Humaniora

Masa Tobat: Cara Baru Mengartikan Sedekah, Doa Dan Puasa

727
×

Masa Tobat: Cara Baru Mengartikan Sedekah, Doa Dan Puasa

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi (gemaliturgi.blogspot.com)
Example 468x60

Sedekah, doa dan puasa bukan untuk dipertontonkan layak sebuah teater atau film  yang diputar pada bioskop-bioskop kota. Ketiganya lebih kepada tanggung jawab nurani yang hening dan bening. Selamat menjalani masa-masa penuh kegembiraan dalam ziarah pertobatan ini!

Oleh:

Example 300250

Oleh: Apolynarius Wawo Koa,SVD

(Kepala SMA Santo Arnoldus Janssen Kupang)

wartaSAJ – Gereja Katolik sedang merayakan masa tobat, yang dibuka Rabu 14 Februari 2024 dengan menandai abu pada dahi umat yang hadir dalam perayaan Rabu-Abu. Gereja memberikan kesempatan kepada umat Katolik untuk merenungkan perjalanan hidupnya masing-masing sesuai dengan panggilan hidup yang diembannya. Masa khalwat selama 40 hari merupakan undangan Tuhan untuk berbenah diri. Umat sedang menilai diri dan hidupnya secara konsisten sambil melontarkan pertanyaan-pertanyaan tentangnya. Apa itu hidup? Apa makna hidup bagi saya? Bagaimana saya menjalani hidup ini? Dan masih banyak pertanyaan lain.

Memasuki masa tobat ini, Izinkanlah saya menulis tentang hakikat tobat berdasarkan teks Matius 6:1-6, 16-18. Matius tidak sedang mendefinisikan tobat layaknya para teolog. Matius justru menyatakan tobat dalam tiga hal penting. Pertama, sedekah. Sedekah lebih dari sekadar derma. Sedekah bisa dalam bentuk uang dan materi. Sedekah ada kurban dan korban. Sekedah menjadi perhatian pertama dari Matius. Mengapa harus bersedekah? Matius justru menempatkan sedekah sebagai bagian pertama, karena sedekah adalah cara hidup dari Allah sendiri. Allah yang kita imani adalah Allah yang mengurbankan dan mengorbankan dirinya. Allah yang memberi diriNya sampai tuntas. Dan senantiasa membagi-bagikan diriNya dalam Sabda dan Ekaristi. Allah yang bersabda dan Allah yang bertindak.

Dalam masa Tobat, sedekah menjadi bagian yang sangat penting. Hidup yang tengah kita jalani ini adalah anugerah. Kita tidak pernah merencanakan hidup di dunia ini. Dalam terminologi Martin Heidegger, hidup itu semacam keterlemparan. Kita seakan dilemparkan ke bumi tanpa pernah kita inginkan dan minta. Bagi orang beriman, hidup dimengerti sebagai anugerah, juga hidup itu dimengerti sebagai pemberian. Dalam konteks Injil, saya boleh katakan hidup kita adalah “sedekah” yang kita terima dari Allah. Tugas kita adalah menganugerahkan hidup ini kepada sesama melalui kesaksian hidup yang benar.

Kedua, berdoa. Doa itu sudah biasa kita lakukan. Di mana-mana kita berdoa dengan cara kita masing-masing, ada yang menandai doa dengan tanda Salib, ada yang mengawali kegiatan dengan doa spontan dan masih banyak cara berdoa yang lain. Doa pada gilirannya adalah aktivitas “akrab dan karib” bagi umat beriman. Matius tidak sedang menganjurkan bunyi doa. Matius lebih menekankan tentang cara berdoa. Cara berdoa yang lebih intens adalah cara berdoa dalam hening. Kerinduan untuk mengalami hening lahir dari kerinduan mengalami sunyi. Saya ingat sebuah puisi yang berjudul “Sunyi itu duka” oleh Karya Amir Hamzah. “sunyi itu duka, sunyi itu kudus, sunyi itu lupa, sunyi itu lampus”. Kesunyian dan keheningan tampak dalam perintah ini “jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” Matius tidak sedang mendidik kita untuk bernarasi tentang doa, tetapi tentang bagaimana berdoa.

Ketiga, puasa. Puasa tidak sekadar tidak makan atau mengurangi makan, puasa lebih dimengerti sebagai “cara berada baru”. Yang baru adalah menjadi pribadi yang selalu mau dibarui. Matius mengangkat contoh yang paling sederhana yaitu cuci muka setiap hari pada waktu berpuasa. Puasa tidak tentang kelesuan, pribadi yang “kemomos”, pribadi yang berantakan. Puasa itu tentang kegembiraan batin yang tampak dalam kegembiraan fisik. Puasa bukan tentang ketakberdayaan hidup karena kekurangan makanan dan minuman, puasa lebih dipahami sebagai kegembiraan hidup yang dijalani. Kegembiraan batin menjadi bagian yang paling penting dalam puasa.

Sedekah, doa dan puasa bukan untuk dipertontonkan layak sebuah teater atau film  yang diputar pada bioskop-bioskop kota. Ketiganya lebih kepada tanggung jawab nurani yang hening dan bening. Selamat menjalani masa-masa penuh kegembiraan dalam ziarah pertobatan ini!

Example floating

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *