Oleh: Fransiska Nitti, S.Pd., M.Si (Guru Biologi SMA Sto. Arnoldus Janssen Kupang)
Murid-muridku yang sedang dan yang akan duduk di hadapanku…
Tulisan ini dibuat saat senja mulai turun dan sekolah telah sunyi. Di balik meja kayu yang penuh goresan, saya termenung memandangi tumpukan tugas yang butuh dinilai, merenungi julukan yang dunia berikan untuk guru: “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”. Sebuah gelar yang gagah, namun terdengar sendu. Banyak yang bertanya, apakah kami sedih tidak memiliki tanda jasa berupa medali emas di dada?
Dunia mungkin berpikir penghargaan tertinggi bagi guru adalah piala emas, sertifikat, atau tepuk tangan meriah di panggung megah. Itu semua memang indah dan kami menghargainya. Tetapi izinkan saya, mewakili rekan-rekan guru di seluruh penjuru negeri, menjawabnya dengan jujur: “Tidak”.
Bagi kami, penghargaan tertinggi itu bukanlah piala yang dipajang di lemari kaca, melainkan sesuatu yang hidup, bernafas, dan berjalan di muka bumi. Penghargaan itu adalah kalian. Penghargaan tertinggi bagi kami adalah ketika melihat “benih” yang ditanam dengan tangan gemetar, tumbuh menjadi pohon yang rindang.
Jika kita ibaratkan kesuksesan seseorang sebagai pohon yang rindang dan berbuah manis, maka guru adalah akarnya. Akar pohonnya selalu di bawah, tersembunyi di dalam tanah, gelap, dan sunyi. Orang tidak memuji akar saat melihat pohon indah, yang di puji hanya bunga dan buahnya. Namun, sang akar tidak pernah iri. Ia tetap ikhlas bekerja mencari air dan nutrisi agar pohon itu tetap tegak berdiri menantang angin.
Begitulah guru!. Mungkin tidak ikut berdiri di podium saat salah satu di antara kalian menerima penghargaan kesuksesan hidup kelak. Namun, dalam setiap keberhasilan yang kalian raih ada “nutrisi” “ilmu” dan “doa” dari guru-guru yang mengalir di sana.
Banyak orang berpikir tugas guru hanya membuat kalian menghafal rumus matematika dan lancar membaca peta buta, atau sekadar masuk kelas, bicara dan memegang spidol di depan papan tulis, lalu pulang. Itu keliru!. Ketahuilah rahasia di balik profesi kami. Mengajar itu bukan sekadar memindahkan isi buku paket ke dalam otak. Seorang guru tidak sekadar mengajarkan fakta bahwa 1 + 1 = 2.
Lebih dari itu, kami sedang mengajarkan tentang kepastian dan kebenaran. Saat kami mengajarkan membaca puisi, tidak hanya mengenalkan kata-kata, tetapi sedang melatih kehalusan rasa dan empati terhadap sesama. Ketika kami mengajarkan kalian mengeja “A-B-C”, tidak hanya mengajar huruf, tetapi memberikan kalian kunci untuk membuka gerbang dunia.
Ketika kami menegur kalian karena tidak jujur, bukan karena marah, tetapi sedang memahat hati kalian agar kelak menjadi manusia yang berintegritas, bukan sekadar manusia yang cerdas. Ketika kami mengajarkan kejujuran, saat itu sedang memasang fondasi anti-korupsi di masa depan. Ketika kami mengajarkan kedisiplinan, itu sedang membangun tiang-tiang kesuksesan bangsa.
Di tengah canggihnya teknologi, mesin mungkin memberikan kita data, tetapi tidak mengajarkan tentang rasa empati, kejujuran dan keberanian. Gurulah yang mengambil peran itu, menenun benang-benang karakter halus di dalam jiwa murid. Guru adalah orang tua yang tidak terikat oleh darah, namun terikat oleh harapan.
Cobalah bayangkan, betapa besar hati sorang guru. Setiap pagi, harus meninggalkan masalah pribadinya di depan pintu gerbang sekolah, lalu masuk kelas dengan senyuman manis demi menyambut kalian. Kami ikut cemas ketika kalian sakit, ikut bangga saat kalian juara dan ikut sedih saat kalian gagal. Kami adalah orang-orang yang rela menghabiskan suara demi membahas satu sub-bab pelajaran, hanya demi kalian paham.
Guru tidak sekadar mentransfer data; tetapi mengubah “ketidaktahuan” menjadi “keingintahuan”, mengubah “Keraguan” menjadi “kemampuan” atau mengubah “batu mentah” menjadi “permata” yang berkilau. Tanpa sentuhan guru, teknologi mungkin ada, tapi etika memanfaatkannya tidak akan tumbuh.
Tanpa guru, manusia mungkin cerdas, tapi kehilangan arah. Inilah peran edukatif yang tak tergantikan oleh mesin secanggih apa pun. Karena dibalik spidol yang ditorehkan terselubung keindahan yang mengharukan.
Di saat dunia meragukan kemampuan seorang murid, bahkan ketika murid itu sendiri merasa dirinya hanya serpihan kerikil. Dengan ketelatenan yang luar biasa, menggosok, memoles, dan membentuk hingga siap bersinar menghadapi dunia. Bahkan hanya dengan bisikan kecil “Kamu bisa, Anak! Bapak dan Ibu guru percaya padamu.” Terdengar sederhana, namun bisa jadi mantra ajaib yang mengubah nasib seseorang selamanya.
Seorang dokter menyelamatkan nyawa, seorang insinyur membangun jembatan, dan seorang pemimpin mengatur negara. Namun, ingatlah, di belakang hebatnya dokter, insinyur, dan pemimpin itu, ada sosok guru yang pernah mengajari mereka membaca huruf ‘A’ sampai ‘Z’ dengan penuh kesabaran.
Setiap kebaikan yang dilakukan oleh muridnya di masa depan, adalah aliran pahala dan kebanggaan yang terus mengalir kembali kepada kami. Jejak kami tidak tertulis di atas pasir yang mudah terhapus oleh ombak, tetapi terukir di dalam sanubari manusia, terbawa hingga akhir hayat.
Guru adalah satu-satunya pekerjaan di dunia yang bekerja keras setiap hari dengan satu tujuan: “Agar kalian siap untuk pergi meninggalkan kami”. Ya, kami mendidik kalian agar kalian siap meninggalkan kami. Kami menjadi tangga agar kalian bisa naik ke tempat yang lebih tinggi, sementara kami tetap berpijak di lantai yang sama, melambaikan tangan sambil tersenyum bangga.
Kami rela menghabiskan waktu hingga rambut memutih dan tenaga terkuras, asalkan di masa depan, kalian menjadi orang yang lebih hebat dari kami. Kebahagiaan terbesar kami bukanlah ikut terbang bersama kalian, melainkan menatap dan melihat kalian terbang tinggi menaklukkan langit, sambil berbisik bangga, “Lihatlah dunia, elang yang gagah itu… dulu aku yang mengajarinya mengepakkan sayap.”
Jadi jika kalian menjadi dokter, jadilah dokter yang ramah. Jika jadi pemimpin, jadilah pemimpin yang adil. Itulah “balasan” terindah yang kami harapkan. Jika kalian bertanya apa penghargaan tertinggi bagi kami?
Penghargaan itu adalah ketika sepuluh tahun lagi, kita berpapasan di jalan, dan kalian masih mengingat kami. Kalian menyapa, “Selamat siang, Pak atau Ibu Guru,” dengan senyum tulus, meski mungkin kami sudah lupa nama kalian karena banyaknya murid yang kami ajar.
Penghargaan itu adalah ketika mendengar kabar bahwa kalian telah menjadi orang yang bermanfaat bagi masyarakat. Saat itu terjadi, dada kami akan membusung bangga, dan berkata, “Lihatlah dunia, itu muridku. Tanda jasaku ada pada dirinya.”
Bayangkan kebesaran hati itu, dengan penuh bangga menceritakan kesuksesan murid yang kami didik kepada dunia. Kebahagian kami sederhana: melihat benih yang ditanam tumbuh menjulang tinggi melampaui pagar sekolah.
Kami rela menjadi lilin, filosofi ini mungkin terdengar klise, namun maknanya sangat dalam. Rela membiarkan diri terbakar, menghabiskan energi, waktu dan pikiran, hanya demi memastikan jalan murid-murid kami terang benderang. Kami rela menua di ruang kelas, agar murid-murid kami bisa berkelana menjelajahi dunia baru.
Di zaman yang serba cepat dan kadang membingungkan ini, guru adalah jangkar yang menahan kapal kemanusiaan agar tidak hanyut. Ketika dunia sibuk mengejar materi, guru mengajarkan tentang budi pekerti, ketika teknologi membuat jarak, guru mengajarkan kebersamaan dan gotong-royong.
Guru hanya menjaga nilai-nilai luhur agar tidak punah. Tanpa guru kecerdasan mungkin ada, namun tidak ada arah.
Maka, pada momentum yang penuh makna ini, jangan bertanya penghargaan tertinggi apa yang kami inginkan!. Kami tidak butuh penghargaan. Cukup jadilah orang yang baik. Jadilah pemimpin yang tidak mengambil hak rakyat. Jadilah orang kaya yang dermawan. Jadilah orang yang bermanfaat di sekelilingmu. Ketika kalian sukses dan bahagia, saat itulah kami merasa menjadi pahlawan yang sesungguhnya. Kalian adalah maha karya kami, tanda jasa yang abadi.














