Example 700x300
Example floating
Example floating
Opini

Kebutuhan Rohani sebagai Jawaban atas Pergumulan Hidup Pelajar dan Mahasiswa Masa Kini

348
×

Kebutuhan Rohani sebagai Jawaban atas Pergumulan Hidup Pelajar dan Mahasiswa Masa Kini

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Mario Pangestu Soge (Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris UNWIRA Kupang dan Alumnus SMA Sto. Arnoldus Janssen Kupang (2022-2025)

Pernahkah kalian melihat bahwa akhir-akhir ini banyak pelajar dan mahasiswa mulai beramai-ramai untuk bunuh diri? Atau banyak dari mereka yang kini sedang mengalami kecemasan dan keputusasaan dalam hidup? Kedua pertanyaan yang disebutkan di atas menggambarkan situasi pergumulan yang sering dialami generasi muda masa kini, yakni gangguan kesehatan mental.

Example 300250

Untuk kondisi sekarang, kita tidak bisa menganggap remeh begitu saja akan permasalahan ini, karena senormal-normalnya kondisi seseorang pastinya selalu menyimpan kerapuhan tersendiri yang tak dapat dipungkiri jika kita melihatnya dari belakang layar, seperti di antaranya kelelahan mental, kecemasan, bahkan depresi yang sangat hebat. Sehingga, hal ini tentunya akan menyangkut dengan keselamatan nyawa seseorang dan perlu untuk ditangani dengan sangat-sangat serius.

Banyak dari generasi muda saat ini, lebih-lebih kepada pelajar dan mahasiswa, sedang dihadapkan dengan berbagai komplektivitas permasalahan yang membuatnya kini harus menanggung berbagai beban dalam persoalan hidup. Entah itu beban akademik, keuangan, bahkan relasi.

Beban akademik sendiri muncul karena ketakutan akan nilai mata pelajaran dan kuliah yang tak mampu memenuhi ekspektasi, baik dari pelajar dan mahasiswa maupun dari orang tua sendiri yang sebelumnya telah memaksakan kehendak anaknya untuk masuk di penjurusan studi sesuai dengan gengsinya, tanpa memperhatikan potensi terbesar yang ada di dalamnya.

Kemudian, beban keuangan muncul akibat kondisi ekonomi keluarga yang tidak menentu, karena berada di bawah garis kemiskinan atau keluarganya sendiri yang tidak utuh seperti dulu lagi.

Serta yang terakhir, beban relasi muncul akibat ketidakcocokkan lingkungan sosial yang berujung pada ketidaknyamanan dalam hubungan, baik dalam hubungan keluarga, percintaan, maupun pertemanan. Ketidakcocokkan ini muncul akibat tekanan dan tuntutan yang diberikan secara berlebihan, sehingga pelajar/mahasiswa merasa bingung dan cemas ketika mereka akan fokus pada tujuan yang ingin dicapai dalam perkuliahan.

Dari ketiga beban permasalahan yang telah dijelaskan di atas, dapat dilihat bahwa kesehatan mental adalah suatu isu penting yang tidak bisa disepelekan di tengah tekanan sosial dan perkembangan teknologi digital yang pesat. Hal ini dapat dilihat berdasarkan hasil temuan penelitian Jurnal Promkes: The Indonesian Journal of Health Promotion and Health Education Vol. 13 No. 2 (2025) dengan judul “Mental Health of Adolescents in the Strawberry Generation: A Bibliometric Analysis”, yang menunjukkan bahwa lebih dari 31 juta penduduk Indonesia berusia di atas 15 tahun mengalami gangguan mental, dengan 19 juta penduduk di antaranya mengalami gangguan emosional dan 12 juta penduduk lainnya menderita depresi.

Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena ini semakin mencuat terutama pada kelompok yang dikenal sebagai Strawberry Generation — generasi muda yang tumbuh di era media sosial dan sering dianggap mudah rapuh secara emosional, sehingga mereka membutuhkan ruang aman untuk bercerita, mendengar, dan didengar. Apabila mereka tidak menemukan ruang yang tepat, maka nantinya ia akan menyimpan luka batin yang perlahan menggerogoti ketenangan hidup.

Di tengah kondisi yang penuh ketidakpastian, kebutuhan rohani bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan mendasar yang berperan memberi arah, makna, dan kekuatan batin. Spiritualitas—dalam bentuk hubungan yang mendalam dengan Tuhan, refleksi diri, dan pencarian makna hidup—menjadi sumber keteduhan ketika pikiran dan hati penuh tekanan. Ketenangan rohani menumbuhkan harapan, sedangkan nilai iman membentuk kepercayaan bahwa hidup memiliki tujuan yang lebih besar daripada sekadar prestasi dan penilaian sosial.

Orang muda yang memiliki kekuatan rohani yang baik lebih mampu memandang kegagalan sebagai proses, bukan akhir. Mereka memiliki keteguhan untuk bangkit dan keberanian untuk mengambil keputusan dengan bijaksana. Rohani menjadi fondasi yang memperkuat aspek intelektual, emosional, dan sosial, sehingga membantu seseorang menjadi pribadi yang utuh dan tahan dari segala badai hidup.

Kekuatan rohani memberi kemampuan untuk tetap tenang dalam badai kehidupan. Di saat stres dan kecemasan memuncak, doa, refleksi, atau meditasi rohani dapat menghadirkan kedamaian yang tidak dapat diberikan oleh hiburan atau pelarian sesaat. Spiritualitas menuntun seseorang untuk mengatur prioritas, menata orientasi hidup, dan menyadari bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh pencapaian semata, tetapi oleh siapa dirinya di hadapan Tuhan dan sesama.

Selain itu, kehidupan rohani membangun karakter dalam hidup seseorang. Nilai kesederhanaan, kejujuran, empati, dan kasih menjadikan pelajar dan mahasiswa sebagai pribadi yang lebih matang secara emosional dan moral. Dalam komunitas rohani, mereka menemukan dukungan, persaudaraan, dan ruang untuk bertumbuh bersama.

Mewujudkan kesadaran rohani bukanlah sesuatu yang instan. Lingkungan pendidikan perlu menjadi ruang yang tidak hanya mempertajam intelektual, tetapi juga membangun spiritualitas. Pembinaan rohani, kelompok diskusi iman, komunitas doa, bimbingan pastoral, kegiatan retret, dan pendidikan karakter merupakan langkah konkret yang dapat memperkuat dimensi rohani pelajar dan mahasiswa.

Demikian pula keluarga, kampus, gereja, dan komunitas sosial mesti bekerja sama untuk menyediakan pendampingan rohani yang mampu menjawab kebutuhan generasi muda. Dari pada sekadar menyuruh mereka menjadi “kuat”, lebih penting menghadirkan ruang yang terbaik untuk meneguhkan dan memulihkan.

Tidak dapat dipungkiri, gaya hidup modern yang semakin condong ke arah pragmatis dan sekuler sering kali menempatkan spiritualitas sebagai hal yang tidak penting atau tidak relevan. Banyak yang memandang kebutuhan rohani hanya sebagai ritual formal belaka dan bersifat kaku. Namun, justru ketika kesunyian batin semakin kuat dan kekosongan semakin terasa, manusia menyadari bahwa yang sesungguhnya dicari bukanlah kesuksesan material, melainkan kedalaman jiwa.

Pada akhirnya, kebutuhan rohani adalah jawaban mendasar bagi pergumulan pelajar dan mahasiswa masa kini. Bukan sebagai pelarian, melainkan sebagai kekuatan yang menghidupkan dan menuntun setiap langkah perjalanan hidup. Dengan membangun kehidupan rohani yang sehat, generasi muda dapat menemukan harapan dalam kegagalan, ketenangan dalam tekanan, dan makna dalam setiap perjuangan.

Kini saatnya pendidikan bukan hanya mencetak orang pintar, tetapi juga membentuk pribadi yang kuat secara batin dan kokoh secara spiritual. Hanya dengan demikian, pelajar dan mahasiswa masa kini dapat menjalani hidup dengan damai dan menemukan masa depan yang penuh harapan.

Example floating

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *