Example 700x300
Example floating
Example floating
Opini

Cinta Bukan Pembuktian Tapi Perlindungan: Upaya Menolak Pergaulan Bebas

849
×

Cinta Bukan Pembuktian Tapi Perlindungan: Upaya Menolak Pergaulan Bebas

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Fransiska Nitti, S.Pd., M.Si (Guru Biologi)

Setiap kali berjalan di koridor-koridor kota Kupang, saya melihat pemandangan yang sama: ratusan anak muda dengan mata yang tak lepas dari layar ponsel, di mana media sosial seperti TikTok atau Instagram sering jadi “teman” terbaik sehingga pergaulan terasa begitu instan tanpa batas. Namun, ilusi keindahan di media sosial ini ternyata menyimpan jebakan yang berbahaya.

Example 300250

Saya merasa sangat sedih karena di balik jempol yang asyik scrolling, banyak anak muda yang justru terjebak dalam arus seks bebas yang kian mengkhawatirkan.

Di tahun 2025, data dari Dinas Kesehatan NTT mengatakan bahwa angka kehamilan remaja di NTT capai 20,4% per tahun, dengan 173 kasus di Sikka saja, dan Kupang bukan pengecualian. Sebagai guru yang peduli kesehatan reproduksi, saya melihat ini bukan cuma soal “apa yang boleh dilakukan”, tapi kenapa remaja terpengaruh teknologi begitu mudah.

Teknologi seperti smartphone dan app dating membuat hubungan terasa instan, tapi tanpa filter etika, ini picu risiko hubungan perkawinan di luar nikah. Data membuktikn bahwa Infeksi Menular Seksual (IMS) naik 20% di kalangan pelajar Kupang, dengan 254 kasus HIV  sampai November 2025 lebih banyak dari pada pekerja seks profesional.

Banyak remaja terjebak dalam “pacaran virtual”: mulai dari obrolan intim hingga berani mengirim foto pribadi yang akhirnya berujung pada penyesalan, depresi, atau putus sekolah. Padahal, cinta itu bukan ujian “siapa yang lebih berani” bukan pembuktian status atau popularitas di medsos.

Cinta sejati itu perlindungan: Melindungi tubuh dari infeksi, melindungi hati dari sakit, dan melindungi masa depan dari jeratan rumah tangga miskin atau putus sekolah.

Cinta itu bukan seperti kuota internet yang dapat dihabiskan semalam. Cinta sejati itu seperti payung yang melindungi, bukan badai yang merusak. Secara biologi, “Hormon estrogen dan testosteron bikin kita rindu dekat, tapi kontrol dirilah yang bikin cinta bertahan”. “Hormon memang bikin jantungmu berdegup kencang, tapi akal sehatlah yang harus jadi kemudinya”.

Sebagai perempuan yang tumbuh di tengah keriuhan Kota Kupang, saya sering mendengar bisikan-bisikan di bangku sekolah maupun di sudut-sudut tempat nongkrong. Bisikan tentang “pembuktian cinta” yang seolah menjadi syarat mutlak agar sebuah hubungan dianggap sah atau keren.

Namun, semakin saya melihat fenomena seks bebas yang kian marak, semakin saya menyadari satu hal: ada harga mahal yang sedang dipertaruhkan atas nama “cinta” yang keliru. Bagi saya, menjadi perempuan yang cerdas di era sekarang bukan tentang seberapa berani kita mendobrak tabu, tapi seberapa kuat kita menjaga prinsip.

Masa remaja adalah fase di mana emosi dan rasa ingin tahu tumbuh dengan estetika yang luar biasa. Namun, keindahan itu hanya akan bertahan jika dijaga dengan integritas. Fenomena seks bebas yang mulai merambah pergaulan di Kupang sering lahir dari ketidaktahuan akan nilai diri. Kita perlu memahami bahwa kedewasaan tidak diukur dari seberapa berani kita melampaui batas, melainkan dari seberapa bijak kita menetapkan batasan.

Sering narasi yang berkembang adalah: “Kalau lu sayang beta, lu mesti kasih bukti.” Kalimat ini bukan hanya manipulatif, tapi juga merendahkan esensi kasih sayang itu sendiri. Mengapa cinta harus dibuktikan dengan menyerahkan kedaulatan tubuh? Mengapa cinta yang seharusnya memuliakan justru berubah menjadi transaksi yang berisiko?

Dalam sudut pandang saya, ketika seseorang meminta “bukti” yang mempertaruhkan masa depan, kesehatan, dan harga diri, dia sebenarnya tidak sedang mencintai. Dia sedang mencintai egonya sendiri.

Kita harus jujur bahwa dalam fenomena seks bebas, perempuan sering memikul konsekuensi yang jauh lebih berat. Mulai dari risiko kesehatan reproduksi, kehamilan yang tidak direncanakan, hingga sanksi sosial yang berat di masyarakat kita.

Kita harus jujur bahwa dalam fenomena seks bebas, perempuan sering memikul konsekuensi yang jauh lebih berat. Mulai dari risiko kesehatan reproduksi, kehamilan yang tidak direncanakan, hingga sanksi sosial yang berat di masyarakat kita.

Kita semua punya mimpi. Ada yang ingin jadi guru, perawat, pengusaha, atau pejabat. Namun, mimpi-mimpi besar itu bisa mendadak redup hanya karena satu keputusan impulsif yang didasari tekanan lingkungan. Saya melihat, perlindungan terhadap diri sendiri adalah bentuk investasi terbaik untuk mencapai mimpi-mimpi itu.

Cinta yang dewasa itu melindungi. Ia melindungi privasi dari kamera ponsel yang haus validasi. Ia melindungi kesehatan dari risiko penyakit yang tidak terlihat. Dan yang terpenting, ia melindungi ketenangan batin.

Laki-laki yang benar-benar punya “kelas” adalah mereka yang berani berkata, “Beta sayang lu, karena itu beta mau jaga lu sampai waktunya tiba.” dan perempuan yang berdaya adalah mereka yang berani menjawab, “Beta berharga, dan cinta beta tidak butuh bukti yang merusak.”

Bagi adik-adik perempuan yang masih duduk di bangku pendidikan, jangan pernah merasa “ketinggalan zaman” hanya karena kamu memilih untuk menjaga batasan. Di dunia yang serba terbuka ini, privasi dan prinsip adalah kemewahan. Mari kita ubah tren ini, kita tunjukkan bahwa anak muda Kupang perempuannya khususnya, adalah pribadi yang memegang kendali penuh atas dirinya sendiri. Karena pada akhirnya, cinta yang sejati tidak akan pernah memintamu kehilangan dirimu sendiri. Ia justru akan membantumu menemukan versi terbaik dari dirimu.

Nusa Tenggara Timur sedang menanti karya-karya putra dan putri hebat. Jadilah seperti karang di pantai yang tetap kokoh meski selalu dihantam ombak. Sayangi diri, jaga martabat adalah mutlak. Cinta yang paling tulus adalah uangkapan diri yang total sambil menjaga harkat dan martabat diri secara utuh. Kita adalah para pemenang yang memegang teguh prinsip, nilai dan integritas.

Example floating

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *