Hari Valentine selalu menjadi hari yang spesial bagi banyak orang, tapi tidak bagi Raka. Baginya, hari itu hanya dipenuhi dengan coklat mahal, bunga yang layu dalam sehari, dan harapan palsu. Sejak duduk di bangku SMA, ia selalu menganggap Valentine sebagai hari yang biasa saja. Namun, tahun ini berbeda.
Saat Raka membuka laci mejanya di kelas, ia menemukan sebuah coklat mungil berbungkus pita merah. Tidak ada nama pengirim, hanya secarik kertas kecil bertuliskan,”untuk seseorang yang mungkin lupa bahwa cinta bisa datang dari hal-hal kecil,” Raka mengernyit. Siapa yang menaruh ini? Ia menoleh ke sekeliling, tetapi teman-temannya asyik dengan urusan masing masing.
Hari-hari berlalu, dan keesokan harinya, ia menemukan surat kecil lagi di tempat yang lain. Kali ini bertuliskan,”terkadang, hal yang kita abaikan justru yang paling berarti”. Raka mulai penasaran. Ia bukan tipe orang yang percaya pada kejutan manis seperti ini, tapi hatinya mulai bertanya-tanya.
Pada tanggal 14 Februari, suatu yang tak terduga terjadi. Saat Raka hendak pulang, ia melihat seorang gadis berdiri di dekat pintu gerbang sekolah, menggenggam sebungkus coklat. Ia mengenali gadis itu. Dina, teman kelas yang jarang ia perhatikan. Dengan gugup, Dina melangka mendekat. “Aku tahu kamu tidak terlalu suka Valentine, tapi…aku hanya ingin bilang, terima kasih sudah jadi seseorang yang selalu aku kagumi dalam diam.”
Raka terdiam. Ia tak pernah menyangka ada seseorang yang memperhatikan seperti ini. Dengan senyum kecil, ia menerima coklat itu. “Mungkin Valentine tidak seburuk yang kupikirkan,” gumamnya. Dan untuk pertama kalinya, Raka merasa bahwa cinta memang bisa datang dari hal-hal kecil, sepotong coklat, secarik kertas dari seseorang yang diam-diam peduli.














