Example 700x300
Example floating
Example floating
Cerpen

Namanya “AYU”

905
×

Namanya “AYU”

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi (Pixabay.com)
Example 468x60

Angin berhembus dari tengah-tengah pepohonan yang penuh dengan bunga berwarna merah, dedaunan tak lagi gugur seperti musim kemarau yang kemarin baru saja beranjak pergi. Ayu pergi ke sekolah seperti biasanya.  Pergi dengan harapan yang terus terbayang pada ingatannya. Dia menyusuri jalan yang sunyi, sesaat setelah hujan berlalu. Matanya terus memandang ke depan menunjukkan sikap optimis yang menggelora dalam jiwa. Dia adalah anak yang tergolong sangat pintar di sekolahnya dan menjadi salah seorang peserta didik yang sangat disiplin. Ayu hidup dari keluarga yang sederhana. Ayahnya bekerja sebagai buruh bangunan, sedangkan ibunya hanyalah seorang ibu rumah tangga. Ayu pernah bercerita bahwa Ayahnya sangat menginginkan suatu saat nanti Ayu bisa tumbuh menjadi seorang yang terdidik sehingga kelak tidak seperti ayah dan ibunya yang hanya tamatan sekolah dasar. Hal ini mungkin menjadi motivasi tersendiri bagi, Ayu. Sampai di sekolah, Ayu merasa bahagia karena bisa tiba dengan selamat dan bisa bertemu dengan teman-temannya lagi. Di sekolah ini, Ayu mempunyai seorang teman yang benama Nadia. Mereka sudah berteman sejak kelas sepuluh sampai sekarang. Ayu adalah siswa kelas dua belas yang masuk di jurusan IPA (Ilmu Pengetahuan Alam). Jurusan ini sesuai dengan cita-citanya yang ingin menjadi seorang dokter, sedangkan temannya, Nadia masuk di jurusan IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial). Meskipun berbeda jurusan, mereka berdua tetap menjadi sahabat yang selalu setia. Guru-guru di sekolah menjuluki mereka  dengan panggilan “Dou Bocil”. Entahlah, panggilan itu hanya sekadar untuk menunjukkan perhatian dan kekaguman tentang persahabatan mereka berdua.

Sekarang Ayu dan teman-teman  kelas dua belas, sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian akhir sekolah. Ayu sangat antusias untuk memperisapkan diri mengikuti ujian ini, setiap hari dia dan teman-teman kelas berdiskusi tentang materi yang akan diujikan dalam ujian nanti. Ayu sendiri dari dulu sering belajar, dia juga suka sekali membaca buku-buku yang ada di perpustakaan. Saat jam istrahat tiba atau setelah bel pulang dibunyikan, Ayu selalu sempatkan diri untuk masuk ke perpustakaan membaca buku selama tiga puluh menit. Hal ini Ayu lakukan setiap pulang sekolah kecuali kalau ada kegiatan ataupun hal yang penting sekali, Dia langsung pulang ke rumah. Ayu tidak punya handphone, berbeda dengan teman-teman yang lainnya, bahkan di dalam kelasnya ada beberapa teman yang sudah menggunakan Iphone. Ayu sadar bahwa orang tua belum bisa membelikan hp untuknya, tapi dia tidak menjadikan itu sebagai masalah, Ayu tahu bahwa banyak cara dan jalan yang ditempuh untuk belajar, bahkan kalau ada tugas yang diberikan secara online, Ayu tak malu untuk meminta kepada guru agar dia mengerjakan atau mengumpulkannya secara offline. Berkat kegigihannya dalam belajar, Ayu sering sekali diminta oleh teman-temannya untuk mengajari atau berdiskusi bersama tentang materi yang mereka belum pahami.

Example 300250

Tibalah saatnya mereka mengikuti ujian yang selama ini mereka tunggu-tunggu dan nantikan. Perasaan was-was menghantui mereka karena ini adalah ujian akhir. Apalagi ini sebagai salah satu syarat kelulusan Sekolah Menengah Atas (SMA). Ujian berlangsung selama lima hari. Setiap kali habis ujian anak-anak tidak langsung pulang ke rumah. Kebanyakan dari mereka memilih mengisi waktu untuk belajar dan mempersiapkan diri mengikuti ujian untuk hari berikutnya, termasuk, Ayu. Akan tetapi, ada juga siswa yang masih menaruh harapan pada nasib dan menganggap  kelulusan itu urusan Tuhan, jadi mereka menganggap belajar itu tidak terlalu penting.

Memasuki ujian hari yang kelima, Ayu bangun seperti biasanya. Selama Ayu sekolah, selalu bangun jam lima pagi, untuk membantu ibunya memasak dan menyiapkan bekal untuk dibawah ke sekolah. Ayu tidak punya alasan untuk tidak membawa bekal dari rumah karena tidak mempunyai uang jajan yang berikan oleh orang tuannya. Ayu tidak pernah mengeluh meskipun rasa malu terus menghantuinya saat jam istrahat di sekolah karena teman kelasnya sibuk berbelanja di kantin. Ayu sering diajak oleh Nadia karena sahabatnya ini termasuk salah satu anak yang berasal dari keluarga yang boleh dibilang kaya. Nadia biasanya diantar oleh ayahnya menggunakan mobil Pajero Sport yang harganya selangit dan hanya orang kaya saja yang bisa membeli mobil sperti itu. Nadia sangat mengerti keadaan Ayu. Nadia, sering sekali mengajak Ayu untuk pergi ke kantin saat jam istrahat bahkan sudah beberapa kali mengajak Ayu ke rumah untuk bermain bersama ataupun belajar bersama. Orang tua Nadia pun sangat senang melihat anak mereka yang tidak tebang pilih dalam pertemanan. Pernah suatu hari, ketika mereka diminta membeli buku paket oleh gurunya, kerena keterbatasan Ayu tidak dapat membelinya dan menceritakan semua kepada Nadia. Tak disangka Ayahnya Nadia pun memberikan uang kepada Ayu untuk membeli buku tersebut.

Setelah selesai memasak dan menyiapakan bekal, Ayu segera mempersiapkan diri untuk berangkat ke sekolah. Pagi itu Dia sangat heran karena ayahnya tidak ada di depan teras. Hal yang tidak biasa bagi dirinya tidak melihat sosok itu di depan teras. Biasanya Dia sudah duduk minum kopi dan menghabiskan beberapa batang rokok kretek sambil menerima vitamin gratis dari mentari pagi. Di rumah mereka hanya bertiga, Ayu adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, Dua kakak laki-lakinya sudah menikah dan tinggal bersama keluarga kecil mereka masing-masing. Ayu bergegas mencari ayahnya di luar rumah tapi tak kunjung terlihat. Dia mecoba bertanya  ke tetangga dekat rumah tapi mereka juga tak melihat ayahnya. Setelah beberapa saat mencari, Ayu ke dapur bertanya kepada Ibu yang sedang masak untuk sarapan pagi, Ibu mengatakan  ke Ayu bahwa ayah sudah bangun dari jam lima.  Ayu juga sempat melihat sebelumnya  saat pergi ke kamar mandi. Akhirnya Ibu menyuruh Ayu pergi melihat kembali ke dalam kamar. Saat ayu membuka tirai kamar, Dia melihat sosok yang Dia kagumi itu terkapar di lantai dan tak sedikit pun menghiraukannya yang sudah berulang kali memanggil Ayahnya. Dia mendekati dan memeganya tapi ayahnya juga tak kunjung bangun.  Ayu sangat panik. Dia teriak untuk meminta ibu segera ke kamar untuk melihat kondisi ayah. Ibu coba memanggil dan meraba seluruh tubuh tapi sama sekali tak memberi respon. Ayu sudah menangis karena Dia takut akan hal yang tak diinginkan terjadi pada ayahnya. Tetangga di sebalah rumah pun mendengar tangisan kencang dari dua sosok perempuan itu  segera menghampiri rumah mereka dengan keadan panik, dalam hati mereka bertanya, “ada apa ini?”

Sampai di dalam meraka melihat sosok lelaki yang mereka kenal sangat tangguh itu berbaring dengan kondisi yang kaku, tanpa berpikir panjang mereka segera menelpon Ambulance untuk segera ke rumah sakit. Ayu yang sedang memakai seragam pun ikut bersama dengan sang ibu ke rumah sakit untuk membawa laki-laki yang mereka kagumi selama ini. Sampai di ruangan UGD dokter langsung memeriksa kondisi laki-laki itu dan meminta Ayu dan ibunya keluar dari ruangan tersebut. Saat itu Tangisan Ayu tak tertahankan lagi, memecahkan kesunyian yang didambakan oleh penghuni ruangan itu. Ayu tak lagi memikirkan dirinya, pikiran dan perasaannya berkecamuk tak menentu.

Selang beberapa menit, setelah dokter selesai memeriksa ayahnya. Dokter menghampiri dua perempuan itu, raut wajahnya sangat layu seperti bunga di musim kemarau. Matanya berkaca-kaca, Dia memulai percakapan dengan sedikit ragu. Dia menyampaikan permohonan maaf dan memberitahu kepada mereka bahwa laki-laki yang mereka kagumi itu telah pergi dari hadapan mereka karena serangan jantung. Ayu tak peduli dengan apa yang disampaikan oleh dokter. Dia berlari ke ruangan tempat ayahnya terbaring. Dia menangis dan berteriak memanggil ayahnya itu. Tapi apalah daya, ayahnya tak menjawab. Ibu juga masuk ke dalam sambil menangis dan tak menerima kenyataan yang terjadi saat itu.

Kabar meninggal ayahnya Ayu sampai di sekolah ketika teman-teman angkatannya sibuk mengerjakan soal ujian. Wali kelas yang menunggu Ayu di depan pintu gerbang dan sibuk mencari kabar tentang dirinya dari pagi langsung kaget dan shok mendengar kabar itu. Air matanya tak bisa tertahankan. Kepala sekolah dan wali kelasnya langsung pergi ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit, mereka melihat Ayu yang sedang menangis sambil memeluk ayahnya degan menggunankan pakian seragam yang lengkap. Melihat kehadiran kepala sekolah dan ibu wali kelas, Ayu sejenak berhenti menagis dan Dia baru ingat bahwa hari ini adalah ujian yang terakhir. Kepala sekolah menghampiri Ayu dan menyampaikan belasungkawa dan meminta Ayu untuk bersabar dalam menghadapi cobaan ini. Ayu kembali menangis mengingat nasibnya tanpa seorang ayah.

Setelah ujian selesai, anak-anak di sekolah itu terkejut mendengar kabar duka cita ini. Nadia yang bahagia karena ujian selesai pun sangat terkejut dan tak bisa menahan air mata. Dia sudah menganggap Ayu sebagai sahabat dan sudara. Dia juga mengenal ayahnya, Ayu. Meskipun jarang sekali bertemu, tapi Dia juga mengenal sosok yang Ayu banggakan dari ceritanya selama ini. Nadia langsung menelfon ayahnya untuk menyampaikan kabar duka yang menimpa keluarga Ayu. Ayah Nadia, langsung ke sekolah meninggalkan beberapa pekerjaanya di kantor. Dia dan Nadia langsung pergi ke rumah duka bersama Bapak dan  Ibu guru serta teman-teman yang turut berduka bersama Ayu. Sesampainya mereka di rumah duka, Nadia langsung keluar dari mobil dan berlari ke arah Ayu. Dia memeluk Ayu dengan kuat dan meminta Ayu untuk bersabar. Ayu terus menangis dan tak tahu harus berbuat apa. Nadia juga tak tega melihat temannya itu, Dia hanya bisa menangis dan berdoa dalam hati kecilnya agar Tuhan memberikan kesabaran bagi Ayu dan keluarganya. Teman-teman yang lain juga ikut menghampiri Ayu untuk memberikan kekuatan kepada Ayu.

Setelah satu minggu kepergian seorang yang dikagumi, Ayu diminta oleh wali kelasnya untuk mengikuti ujian susulan di sekolah. Awalnya, Ayu bimbang karena kesedihan dan rasa putus asa menyelimuti dirinya, akan tetapi ibunya memberikan kekuatan dan meminta Ayu agar mengikuti ujian susualan. Ini adalah cobaan yang harus kita terima, semua makhluk hidup di bumi ini pasti dikalahkan oleh waktu. Kita yang masih hidup harus terus berjuang untuk mengukir sejarah kita masing-masing. Ayu, kamu harus buat ayah tersenyum, berikan kado yang terbaik untuk ayah. Kata-kata itu membuat Ayu kembali mendapatkan secuil harapan untuk terus melangkah. Sosok ibu memang seperti itu, begitu kuat, hatinya sakit tetapi tetap memberikan kekuatan bagi anak-anaknya. Ayu kemudian mengikuti ujian meskipun susasana hati belum sembuh dari susana duka. Dia mengikuti ujian itu dengan penuh keyakinan dan percaya bahwa ayahnya yang telah pergi, masih melihatnya dengan wajah yang senyum karena anak yang dia cintai bisa mengikuti ujian sampai selesai. Setelah selesai ujian wali kelas memberi tahu Ayu bahwa Pengumuman kabar lulus akan diumumkan dalam bulan ini.

Tiba saatnya pengumuman kabar lulus, Ayu berjalan dengan tegar, melintasi jalan yang sunyi, sambil berharap dirinya bisa lulus agar bisa melanjutkan proses yang selanjutnya yaitu kuliah. Dia tidak lagi memikirkan cita-citanya yang ingin menjadi dokter. Saat ini dia hanya ingin lulus dan bisa melanjutkan sekolahnya. Sampai di sekolah, guru-guru sibuk menyiapkan acara ini dan Dia melihat teman-temanya yang sedang bercerita dengan wajah ragu dan cemas. Guru meminta semua anak-anak kelas dua belas agar segera memasuki Aula karena sebentar lagi acara yang mereka tunggu-tunggu akan segera dimulai. Setelah guru pastikan bahwa semua kelas dua belas sudah ada dalam ruangan, acara langsung dibuka oleh pembawa acara dan selanjutnya sambutan yang dikuti dengan pengumuman peserta didik yang mendapatkan prestasi serta pengumuman kelulusan. Saat pembacaan surat keputusan dari kepala sekolah, semua terdiam dan gugup. Kepala sekolah memulainya dengan membacakan peserta didik yang berprestasi, Nama Ayu menjadi orang pertama yang dibacakan oleh kepala sekolah. Dia menjadi peserta didik yang berprestasi dan mendapatkan nilai paling tinggi di sekolah tersebut diikuti oleh Nadia dan peringkat ketiga salah satu saingannya Ayu dalam kelas. Kemudian kepala sekolah melanjutkan dengan penguman kabar lulus, kepala sekolah sedikit basa basi agar suasananya tidak terlalu tegang takutnya ada yang pingsan. Puji Tuhan angkatan ini seratus persen. Saat mendengar kepala sekolah menyampaikan hal itu, semua langsung teriak dan bersyukur kepada Tuhan atas hasil yang mereka capai.  Ayu saat ini senang sekaligus sedih, seharusnya kabar ini harus didengar oleh sosok yang Dia kagumi tapi begitulah hidup kadang tak sesuai dengan harapan kita manusia. Ayu berhak mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolah di perguruan tinggi. Ayu menangis dalam rasa yang tak bisa djelaskan dengan kata-kata. Dia tak sabar mengabari kabar ini ke ibu yang selalu setia menunggu di rumah. Saat diberi kesempatan berbicara di depan semua orang yang hadir dalam acara itu, Ayu sambil mengusap air mata menyampaikan terima kasih untuk pihak sekolah dan diakhir kata sambutannya, Dia mengatakan pesan yang pernah didengar dari ayahnya, bahwa hidup tentang perjuangan. Kita harus terus melangkah maju, apapun cobaan atau rintangan yang menghampiri kita. Yakin dan percaya bahwa alam semesta tidak akan tinggal diam melihat peristiwa hidup kita. Semoga kita semua bisa sukses dan menjadi manusia yang berguna bagi sesama dan seluruh ciptaan Tuhan. Terima kasih.

(Selesai)

Example floating

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *