Example 700x300
Example floating
Example floating
Esai

Pembangunan Budaya Literasi sebagai Usaha untuk Membekali Manusia NTT dalam Menghadapi Era Digital

518
×

Pembangunan Budaya Literasi sebagai Usaha untuk Membekali Manusia NTT dalam Menghadapi Era Digital

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Sebagai tanda dari peradaban post-literer, dunia kini sedang lumrah dengan era digital yang tampaknya mempengaruhi setiap aspek kehidupan manusia. Segala pekerjaan manusia dimudahkan oleh produk-produk digital yang kemudian memberikan kesan positif mengenai kontribusinya bagi eksistensi manusia. Akibatnya, manusia merasa nyaman bahkan kecanduan dengan segala hal yang berbau digital.

Fenomena di atas merupakan fenomena universal yang pada kenyataanya juga menyentuh Nusa Tenggara Timur (NTT). Pada tahun 2020, tercatat ada 3.338.440 orang pengguna internet[1] di NTT dari total jumlah penduduk di tahun yang sama sebanyak 5,326 juta jiwa.[2] Ini berarti sekitar 65% penduduk NTT di tahun 2020 adalah pengguna internet. Dengan tingkat penggunaan internet yang cukup tinggi tersebut, NTT masih disebut sebagai provinsi dengan tingkat non-literasi tertinggi ketiga di Indonesia (13,10%) mengikuti Papua di urutan pertama (36,1%) dan Nusa Tenggara Barat di ututan kedua (16,48%).[3] Dengan perbandingan angka pengguna internet dan tingkat literasi di NTT ini, dapat diketahui bahwa hampir sebagian besar penggunaan internet di NTT tidak diimbangi dengan literasi. Hal ini menyebabkan terjadinya banyak penyalahgunaan produk-produk digital yang kemudian berujung pada munculnya berbagai masalah sosial termasuk juga kekerasan di media sosial.[4] Fakta ini menunjukkan bahwa manusia NTT telah masuk ke dalam peradaban post-literer tanpa ada bekal dari peradaban literer. Manusia NTT masuk ke era digital tanpa bekal literasi. Oleh karena itu, pentingnya pembangunan budaya literasi di NTT sebagai usaha untuk membekali manusia NTT dalam menghadapi era digital perlu diangkat ke permukaan.

Example 300250

Manusia NTT, Peradaban Literer, dan Peradaban Post-literer

            Perlu dimengerti bahwa peradaban manusia NTT merupakan peradaban yang masih sangat muda. Homo floresiensis yang ditemukan pada tahun 2003 lalu di Liang Bua oleh peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) diperkirakan berumur 10.000 tahun,[5] suatu umur yang jauh lebih muda muda dibandingkan dengan umur peradaban manusia lain seperti manusia Jawa atau Pithecanthropus erectus yang diperkirakan berumur 700.000 sampai satu juta tahun.[6] Umur peradaban yang terbilang muda ini sangat mempengaruhi eksistensi manusia NTT di zaman ini.

Sepuluhribu tahun yang lalu, manusia NTT masih berada di titik awal peradabannya, sedangkan manusia lain sudah berada di pertengahan peradaban mereka. Ketika manusia NTT baru memulai eksistensinya sebagai Homo sapiens, manusia lain sudah terbiasa menggunakan ratio yang mereka miliki. Hal ini menjadi masalah ketika peradaban manusia NTT itu dihadapkan dengan percepatan peralihan peradaban yang tidak toleran terhadap usia peradaban. Ketika manusia NTT baru menyelesaikan peradaban pasca-literernya, dia sudah dipaksa oleh percepatan peradaban untuk langsung masuk ke dalam peradaban post-literer tanpa melalui peradaban literer, sedangkan peradaban manusia lain yang sudah lebih dahulu eksis masih punya waktu untuk menyiapkan diri mereka dalam peradaban literer. Bukti bahwa manusia NTT belum sempat memsuki peradaban literer adalah ketiadaan warisan bahasa-bahasa di NTT secara tertulis (seperti prasasti-prasasti) ataupun aksara sendiri seperti aksara Jawa. Selain karena bahasa-bahasa di NTT termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia yang kerap kali tidak menyisakan warisan tertulis, hal ini diakibatkan juga oleh ketidaksempatan manusia NTT untuk masuk ke peradaban literer.

Akibat dari ketidaksempatan manusia NTT untuk masuk ke peradaban literer terlihat dengan sangat jelas. Manusia NTT tidak siap untuk menerima setiap produk yang ditawarkan oleh peradaban post-literer. Manusia NTT berjalan timpang di dalam peradaban ini sebab eksistensinya tidak dibekali dengan semangat peradaban literer. Manusia NTT tidak mampu menggunakan setiap produk peradaban post-literer secara baik dan benar karena dia tidak memiliki pegangan yang menjamin kesiapan dirinya untuk eksis di peradaban ini. Akibatnya, produk-produk peradaban post-literer seperti internet sering disalahgunakan, media sosial dipakai secara tidak bijak, barang-barang eletronik dipakai tidak sesuai dengan fungsinya dan seterusnya.[7]

Pembangungan Budaya Literasi sebagai Usaha untuk Membekali Manusia NTT dalam Menghadapi Era Digital

Fakta bahwa manusia NTT sudah melompati peradaban literer tidak bisa diubah lagi. Keadaan ini juga tidak bisa diselesaikan dengan mempersalahkan percepatan peradaban yang terjadi di dunia ini. Satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah ini adalah dengan membangun budaya literasi di NTT. Harus dipahami bahwa pembangunan budaya literasi di NTT ini merupakan usaha untuk melengkapi tahap peradaban manusia NTT. Dengan dibangunnya budaya literasi di NTT, peradaban literer di tambahkan ke dalam peradaban manusia NTT sehingga manusia NTT memperoleh pijakan yang tepat untuk eksis dalam peradaban post-literer. Manusia NTT yang terbentuk oleh usaha ini adalah manusia yang tidak bingung ketika menghadapi arus digitalisasi. Di sini, budaya literer menyelamatkan manusia NTT dari bahaya penyalahgunaan produk-produk digital.

Pembangunan budaya literasi mengartikan pengintegrasian peradaban literer ke dalam peradaban post-literer. Sudah tidak ada kesempatan lagi untuk kembali ke masa lalu, tetapi selalu ada peluang untuk membawa budaya literasi yang menjadi inti peradaban literer itu ke dalam peradaban sekarang ini. Di sini, budaya literasi dan segala bentuk digitalisasi saling dikolaborasikan. Media digital dipakai untuk memudahkan pembangunan budaya literasi di NTT dan budaya literasi yang sudah dibangun itu dijadikan sebagai bekal bagi manusia NTT dalam menghadapi arus digital sehingga segala produk digital dapat digunakan dengan lebih baik dan bertanggungjawab. Dengan demikian, terbangunlah suatu siklus relasi yang saling menguntungkan di antara keduanya. Akhirnya, situasi ideal ini terpenuhi di NTT: terlengkapinya tahap peradaban manusia NTT, terbentuknya manusia NTT yang bijak dalam mengahadapi segala tawaran era digital, dan tentunya “dunia NTT” yang lebih indah.

[1]Liberty Jemadu dan Dicky Prastya, “Ini Jumlah Pengguna Internet Indonesia 2020 Per Provinsi, dalam Suara.com, https://www.suara.com/tekno/2020/11/13/191253/ini-jumlah-pengguna-internet-indonesia-2020-per-provinsi, diakses pada 14 Desember 2021.

[2]Badan Pusat Statistik Nusa Tenggara Timur, Jumlah Penduduk Hasil SP2020 (September 2020) sebanyak 5,33 juta jiwa”, https://ntt.bps.go.id/pressrelease/2021/01/21/1013/jumlah-penduduk-hasil-sp2020–september-2020–sebanyak-5-33-juta-jiwa.html, diakses pada 14 Desember 2021.

[3]Mardiana Makmun, “Tingkat Literasi Terendah, Anak Indonesia Timur Membutuhkan Perpustakaan”, dalam Investor.id, https://investor.id/lifestyle/203513/tingkat-literasi-terendah-anak-indonesia-timur-membutuhkan-perpustakaan, diakses pada 14 Desember 2021.

[4]Depkominfo pernah menyebut masyarakat Indonesia sebagai masyarakat yang berliterasi rendah tetapi cerewet di media sosial. Bdk, Depkominfo, “Teknologi Masyarakat Indonesia: Malas Baca Tapi Cerewet di Medsos”, https://www.kominfo.go.id/content/detail/10862/teknologi-masyarakat-indonesia-malas-baca-tapi-cerewet-di-medsos/0/sorotan_media, diakses pada 14 Desember 2021.

[5]“Jejak Peradaban NTT: ‘Homo Floresiensis’, Harta Arkeologi”, dalam Kompas, https://jelajah.kompas.id/jejak-peradaban-ntt/baca/jejak-peradaban-ntt-homo-floresiensis-harta-arkeologi/, diakses pada 14 Desember 2021.

[6]Widya Lestari Ningsih, “Pithecanthropus Erectus: Penemuan, Ciri-ciri, dan Kontroversi, dalam Kompas, https://www.kompas.com/stori/read/2021/04/08/145623479/pithecanthropus-erectus-penemuan-ciri-ciri-dan-kontroversi?page=all#:~:text=KOMPAS.com%20-%20Pithecanthropus%20erectus%20atau,700.000%20hingga%20satu%20juta%20tahun, diakses pada 14 Desember 2021.

[7]Bdk. Ryan Nong, ”Pencabulan Akibat Medsos Marak, Ini Pendapat Kepala SMA Kristen Mercusuar Kupang”, dalam PosKupang.com, https://kupang.tribunnews.com/2019/07/08/pencabulan-akibat-medsos-marak-ini-pendapat-kepala-sma-kristen-mercusuar-kupang, diakses pada 14 Desember 2021, “Polisi Imbau Masyarakat Kupang Bijak Gunakan Media Sosial”, dalam AntaraNews.com, https://www.antaranews.com/berita/1253585/polisi-imbau-masyarakat-kupang-bijak-gunakan-media-sosial, diakses pada 14 Desember 2021.

Example floating

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Esai

Membaca adalah kebiasaan penuh hikmah yang membawa kita ke dalam perjalanan melintasi dunia tak terbatas melalui halaman-halaman tulisan. Dalam esai ini, kita akan menjelajahi urgensi dan keindahan dari kebiasaan membaca serta mengungkapkan alasan mengapa kita harus merangkulnya dalam kehidupan sehari-hari.

Esai

Selembar kertas usang ini mengajak kita untuk merenung. Kita bisa lebih menghargai betapa berharganya momen-momen kecil yang pernah kita alami. Setiap halamannya mungkin saja menyimpan sejuta rasa, percikan kenangan, dan kepingan harapan. Kita semua bisa belajar darinya, bahwa meski rentan terlupakan, sebuah selembar kertas usang tetap berharga, sama seperti kita yang terus menyusuri kehidupan ini.