Example 700x300
Example floating
Example floating
Refleksi

Sto. Yosef Freinademetz: Misionaris Sulung Kongregasi SVD Yang Melampaui Batas

474
×

Sto. Yosef Freinademetz: Misionaris Sulung Kongregasi SVD Yang Melampaui Batas

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Aris Wawo,SVD

Yoseph Freinademetz dilahirkan pada 15 April 1852 di Oeis, sebuah kampung kecil yang terdiri dari lima rumah, di tengah pegunungan Alpen, Italia Utara.

Example 300250

Wilayah ini banyak dikenal oleh para misionaris indonesia dan Imam diosesan Nusra yang mengikuti tahun sabatikal dan kursus Dei verbum.

Oeis bagi kebanyakan peziarah dan wisatawan adalah tempat yang sangat indah. Tempat ini boleh dikatakan sebagai “taman eden” yang sulit dijumpai di daerah dan wilayah lain. Pengakuan ini berasal dari para misionaris SVD dan SSpS serta Awam yang pernah ke Oies.

Pertanyaannya: Mengapa Yosef berani meninggalkan kampung halaman yang sangat indah menuju Shantung Selatan?

Keinginan untuk menjadi Imam sudah sejak kecil. Ia tertarik menjadi imam diosesan Brixen. Ia menempuh pendidikan calon imam dengan penuh tanggung jawab.

Pada 25 Juli 1985, ia ditahbiskan sebagai Imam. Ia bertugas di gereja San Martino-Badai. Wilayah ini dekat kampung halamannya.

Pengalamannya sebagai imam diosesan bukan menjadi pilihan terakhir. Ketika ia mendengar ada rumah misi yang didirikan oleh Arnoldus Jnsssen di Steyl-Belanda, Yosef bergabung bersama rumah misi itu dan menjadi misionaris SVD.

Pada 11 Agustus 1878, Yosef memutuskan secara resmi untuk bergabung dengan Pater Arnoldus Janssen di rumah misi. Ia merayakan Ekaristi bersama umat sebelum berpisah. Pada momentum ini, Yosef menyampaikan kotbahnya.

“Atas kebaikanNya yang tak terselami, Gembala Baik yang ilahi telah berkenan mengundang saya supaya pergi bersama dengan Dia ke padang gurun, dan membantu Dia mencari domba-domba yang tersesat. Apa yang harus saya buat selain dengan sukacita dan dengan rasa syukur saya mengecup tanganNya dan mengucapkan perkataan Kitab Suci, ‘Lihat, saya datang!’, Katanya dengan lugas.

Shantung Selatan (China) adalah tempat pertama misinya. Sesudah dua tahun persiapan di Hongkong, tahun 1881, Yoseph beralih ke Shantung Selatan, sebuah provinsi di China dengan dua belas juta penduduk, tetapi hanya ada 158 orang Kristiani.

Di wilayah ini, Yosef mengalami tantangan yang serius. Ia ditolak dan disiksa karena mewartakan Kristus. Pengalaman ini menjadi inspirasi baginya untuk setia pada panggilan Tuhan.

Kesetiaannya ditunjukkan melalui ketaatannya. Ia tidak pernah pulang kampung. Ia memilih untuk menjadi orang China, bahkan sesudah kematiannya. “Saya mencintai China dan orang-orang China. Saya ingin mati dan dikuburkan di antara mereka, dan di surga nanti saya mau tetap menjadi orang China,” ungkapnya.

Oleh kesetiaan menghayati dan menjalani imamat, pada 5 Oktober 2003 di Vatikan, ia bersama Pater Arnoldus Janssen dikanonisasi oleh Paus Yohanes Paulus II menjadi orang-orang Kudus dalam Gereja Katolik.

Yosef adalah pribadi yang punya komitmen dan menjalani imamat melampaui batas budaya, teritorial dan agama. Ia menjadi Kudus karena mampu melampaui batas. Cara pandang yang melampaui batas menjadi inspirasi yang menggerakkannya untuk menembus batas. Kita dapat menembus batas karena cara pandang yang melampaui batas.

Selamat merayakan Pesta Sto. Yosef Freinademetz pada 29 Januari!

 

 

 

Example floating

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *